Tentang Perusahaan
Akar Perjalanan Indo Leksia dalam Membangun Ekositem Digitalisasi Bahasa

Gambar 1. Direktur, Tenaga IT, dan Ahli Bahasa Indo Leksia.
Nama Indo Leksia merupakan gabungan dari kata “Indonesia” dan “lexia dalam bahasa Yunani, yang kemudian diserap dan ditransliterasi menjadi “leksia” dalam bahasa Indonesia. Dalam linguistik, “leksia” merujuk pada leksis, yaitu satuan terkecil dari sesuatu yang dapat dibaca atau minimal unit of readable text. Pemilihan nama ini mencerminkan fokus perusahaan pada penguatan bahasa, kata, dan teks, khususnya dalam konteks Indonesia. Identitas visual Indo Leksia pun memperkuat hal ini melalui penerapan visual spektrum warna merah putih pada logo menjadi perpanjangan makna nama perusahaan.
Indo Leksia secara resmi berdiri sebagai badan usaha pada awal 2025, tetapi akar perjalanannya telah dimulai sejak 2016. Berikut adalah lini masa perjalanan Indo Leksia:
Gambar 2. Mas Ian sebagai Pemakalah dalam Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) 2018).
Pada tahun 2016, Ian Kamajaya (kini pendiri Indo Leksia) yang lebih akrab dikenal dengan nama sapaan Mas Ian, melakukan kolaborasi dengan Badan Bahasa untuk mengembangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Pengembangan pada mulanya berbentuk fitur pencarian kamus, tetapi kemudian berkembang menjadi sistem “meja redaksi” atau semacam dictionary management system. Dengan formula ini, seluruh pengguna KBBI Daring di Indonesia dapat berkontribusi sebagai editor penyusunan kamus daring. Inovasi ini menjadi langkah revolusioner dalam dunia leksikografi Indonesia yang tercatat dalam jurnal KBBI Daring: A Revolution in The Indonesian Lexiccography (Kamajaya, dkk., 2017).
Pada tahun 2018—2019, Mas Ian terlibat dalam pengembangan Aplikasi Kompilasi Kamus (AKK) yang menyatukan lima jenis kamus, mulai dari kamus bahasa daerah ke bahasa daerah, kamu bahasa daerah ke Indonesia, kamus Indonesia ke bahasa daerah, kamus kamus bahasa asing, dan kamus istilah. Kelima kamus ini diintegrasikan dalam satu sistem pencarian silang.
Pada tahun 2019, Mas Ian mulai mengembangkan prototipe awal Aplikasi Penyuntingan Bahasa Indonesia (Sipebi).
Pada tahun 2021, Mas Ian resmi bekerja sama dengan Badan Bahasa untuk mengembangkan Sipebi.
Pada tahun 2024, Mas Ian terlibat dalam pengayaan kosakata KBBI Daring melalui kerja sama dengan Oxford University Press, penerbit asal Britania Raya, dan Lexonomy, perusahaan TI asal Republik Ceko yang dikenal secara internasional sebagai pengembang berbagai perangkat kebahasaan digital. Dengan adanya kolaborasi ini, sebanyak 80.000 entri baru dimuat dalam KBBI Daring. Penambahan entri ini tercatat sebagai pertumbuhan pesat entri KBBI Daring yang sebelumnya berjumlah 120.000 menjadi 200.000, sekaligus melampaui rerata penambahan entri tahunan yang semula di kisaran 2.000—5.000 entri.
Pada tahun 2025, Indo Leksia resmi berdiri sebagai badan usaha dan mengambil alih pengembangan Sipebi secara berkelanjutan.
Di luar lini masa tersebut, Indo Leksia juga pernah terlibat dalam pengembangan KBBI Disnetra, yaitu kamus untuk penyandang tunanetra yang hadir dalam dua bentuk: versi fisik berbasis huruf braille dan versi aplikasi berbasis suara. Dalam proyek ini, Indo Leksia berperan sebagai konsultan teknis dan penguji keamanan data versi aplikasi berbasis suara.
Per tahun 2025, Indo Leksia terdiri atas Direktur, tenaga Information Technology (IT), serta sejumlah ahli bahasa yang juga berperan dalam bidang pemasaran dan kesekretariatan. Dengan sumber daya ini, Indo Leksia telah terbukti mampu menangani proyek berskala nasional maupun internasional.
